Sintang: Profil Kabupaten, Sejarah, Wisata, dan Potensi Daerah

sintang

TL;DR

Sintang adalah kabupaten di Kalimantan Barat seluas 21.635 km persegi yang terletak di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Wilayah ini punya sejarah panjang sebagai bekas kesultanan sejak abad ke-13, dengan Istana Al-Mukarramah dan Masjid Jami Sultan Nata sebagai bukti peninggalannya. Destinasi utamanya adalah Bukit Kelam, batu monolit setinggi 1.002 mdpl yang disebut lebih besar dari Ayers Rock di Australia. Ekonomi Sintang bertumpu pada pertanian, perdagangan, dan konstruksi, dengan PDRB mencapai Rp18,86 triliun pada 2023.

Nama “Sintang” berasal dari kata Dayak senetang, yang berarti daerah di pertemuan beberapa aliran sungai. Deskripsi itu masih akurat sampai sekarang. Kota Sintang memang berdiri tepat di titik bertemunya Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, dan Sungai Melawi. Titik pertemuan ini disebut warga setempat sebagai Saka Tiga karena membentuk segitiga aliran air.

Kabupaten Sintang sendiri terletak di bagian timur Provinsi Kalimantan Barat, dengan luas wilayah 21.635 km persegi. Luasnya menjadikan Sintang kabupaten terbesar ketiga di Kalimantan Barat setelah Ketapang dan Kapuas Hulu. Wilayahnya bahkan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, di sebelah utara. Secara administratif, Sintang terbagi menjadi 14 kecamatan dengan ratusan desa yang tersebar di perbukitan dan sepanjang aliran sungai.

Untuk kabupaten seluas ini, penduduknya relatif sedikit. Data BPS mencatat populasi Sintang sebanyak 446.250 jiwa pada pertengahan 2024, dengan kepadatan hanya sekitar 21 jiwa per km persegi. Penduduknya terdiri dari berbagai etnis, dengan Dayak, Melayu, Jawa, dan Tionghoa sebagai kelompok terbesar. Berikut profil lengkap Sintang, mulai dari sejarah, wisata, hingga potensi ekonominya.

Sejarah Sintang: Dari Kerajaan Hindu hingga Kesultanan Islam

Sintang bukan kabupaten yang lahir dari pemekaran modern. Akar sejarahnya jauh lebih tua dari itu. Menurut catatan resmi Pemkab Sintang, Kerajaan Sintang didirikan oleh Demong Irawan (Jubair Irawan I) pada sekitar tahun 1262, ketika ia memindahkan pusat kekuasaan ke daerah bernama “Senentang” di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Sebelumnya, lokasi awal kerajaan diperkirakan berada di Desa Tebelian Nanga Sepauk, sekitar 50 km dari kota Sintang yang sekarang.

Awalnya, Kerajaan Sintang bercorak Hindu. Bukti peninggalan dari masa ini masih bisa ditemukan berupa Batu Lingga bergambar Mahadewa dan arca Nandi di Dusun Batu Belian, Kecamatan Sepauk. Dari artefak yang ditemukan, diketahui ada 29 raja bercorak Hindu yang pernah memerintah sebelum Islam masuk.

Perubahan besar terjadi pada abad ke-17. Abang Pencin, yang kemudian bergelar Pangeran Agung, menjadi penguasa Sintang pertama yang memeluk Islam (sekitar tahun 1600). Puncak perkembangan Islam di Sintang terjadi pada masa Sultan Nata Muhammad Syamsuddin (1672-1738). Pada masa inilah Sintang resmi menjadi kesultanan, dilengkapi dengan penyusunan undang-undang, pembangunan istana, dan pendirian Masjid Jami Sultan Nata pada 1672, yang sampai sekarang masih berdiri sebagai masjid tertua di kabupaten ini.

Kontak resmi dengan Belanda dimulai pada Juli 1822, ketika rombongan di bawah pimpinan Mr. J.H. Tobias tiba untuk berdagang. Serangkaian perjanjian menyusul setelahnya (1823, 1832, 1847, 1855), dan Belanda secara bertahap masuk ke urusan pemerintahan Sintang. Kesultanan ini bertahan hingga 1960 sebelum akhirnya bergabung sepenuhnya dengan NKRI dan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Sintang.

Istana Al-Mukarramah dan Museum Dara Juanti

Peninggalan paling terlihat dari Kesultanan Sintang adalah Istana Al-Mukarramah. Bangunan seluas 652 meter persegi ini dibangun pada 1937 oleh raja ke-24, Raden Abdul Bachri Danu Perdana, dengan arsitek berkebangsaan Belanda. Desainnya menggabungkan gaya rumah Belanda dengan elemen tradisional, termasuk ciri khas rumah panggung.

Istana ini berdiri menghadap Saka Tiga, pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Di dalamnya tersimpan berbagai benda bersejarah: meriam yang menghadap sungai, alat musik Dayak, foto-foto raja terdahulu, dan koleksi artefak kerajaan. Sebagian bangunan kini difungsikan sebagai Museum Dara Juanti, dinamai berdasarkan Putri Dara Juanti, tokoh penting dalam silsilah Kerajaan Sintang yang menikah dengan Patih Logender dari Majapahit.

Di sebelah istana berdiri Masjid Jami Sultan Nata dengan arsitektur rumah panggung khas pesisir sungai. Kompleks ini terbuka untuk umum dan relatif mudah dijangkau karena berada di pusat kota. Pada Desember 2025, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengunjungi istana ini dan menyebut kelengkapan data sejarah dan silsilah kerajaan Sintang “luar biasa.”

Bukit Kelam: Monolit Raksasa yang Lebih Tinggi dari Ayers Rock

Kalau Sintang punya satu ikon wisata yang paling dikenal, itu adalah Bukit Kelam. Batu monolit raksasa ini berdiri di Kecamatan Kelam Permai, sekitar 23 km dari pusat kota Sintang. Ketinggiannya mencapai 1.002 meter di atas permukaan laut, dengan tebing terjal yang menjulang di atas dataran rendah Kalimantan.

Perbandingan yang sering muncul adalah dengan Ayers Rock (Uluru) di Australia. Uluru memiliki ketinggian 862 mdpl, tetapi tanah di sekitarnya sudah berada di ketinggian beberapa ratus meter. Bukit Kelam naik dari dekat permukaan laut, sehingga formasi batuannya secara keseluruhan jauh lebih besar. Botaniwan Jerman Johannes Gottfried Hallier menjadi orang Eropa kedua yang mencapai puncaknya pada 1894, dan sejak saat itu Bukit Kelam terus menarik perhatian peneliti dan pendaki.

Flora Endemik dan Aktivitas di Bukit Kelam

Bukit Kelam bukan sekadar batu besar. Di dinding tebing granitnya tumbuh setidaknya 14 spesies kantong semar (Nepenthes), termasuk Nepenthes clipeata yang hanya ditemukan di sini dan tidak ada di belahan bumi lain. Anggrek hitam juga masih bisa dijumpai di kawasan ini. Fauna yang dilaporkan masih ada antara lain beruang madu, trenggiling, dan burung walet yang menghuni gua-gua di bukit ini.

Untuk pendakian ke puncak, waktu yang dibutuhkan sekitar 4-5 jam naik dan 3-4 jam turun bagi pendaki yang belum terbiasa. Saat ini sudah tersedia jalur via ferrata (tangga besi dan tali pelindung) di sisi barat untuk pendakian yang lebih aman. Dari puncak, Anda bisa melihat panorama kota Sintang dan hamparan hutan di sekitarnya. Suhu di puncak bisa turun di bawah 20 derajat Celsius pada malam hari.

Taman Wisata Alam Bukit Kelam dibuka untuk pengunjung setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00, dengan tiket masuk sekitar Rp15.000-20.000 per orang tergantung hari kunjungan. Fasilitas dasar seperti area parkir, kamar mandi, dan mushola sudah tersedia, meski kawasan ini masih terus dalam tahap pengembangan.

Hutan Wisata Baning: Hutan Tropis di Tengah Kota

Tidak banyak kota di Indonesia yang punya hutan tropis alami di tengah-tengah wilayahnya. Hutan Wisata Baning adalah salah satunya. Terletak di wilayah Kelurahan Baning dan Kelurahan Tanjung Puri, hutan seluas sekitar 213 hektare ini merupakan hutan rawa gambut yang tergenang sepanjang tahun.

Ekosistem rawa gambut ini mendukung keberadaan berbagai flora langka seperti jelutung, ramin, rengas, dan tentu saja kantong semar serta anggrek hitam. Fauna yang bisa dijumpai antara lain monyet merah (Presbytis rubicunda) yang oleh warga setempat disebut Kelasi, musang air, biawak, dan beruang madu. Di dalam hutan tersedia jalan setapak berupa jembatan kayu yang memudahkan pengunjung menyusuri kawasan tanpa harus basah.

Akses ke Hutan Wisata Baning sangat mudah karena bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda dari pusat kota. Tersedia juga area camping ground dan losmen kecil bagi pengunjung yang ingin menginap.

Rumah Betang Ensaid Panjang: Warisan Hidup Suku Dayak

Sekitar 60 km dari kota Sintang, di Desa Ensaid Panjang Kecamatan Kelam Permai, berdiri sebuah rumah betang yang masih dihuni. Rumah adat Dayak ini memiliki panjang sekitar 118 meter dan lebar 17 meter, dengan bentuk panggung setinggi sekitar 12 meter. Di dalamnya tinggal puluhan keluarga dari Suku Dayak Desa (sub-etnis Dayak Ibanik) yang masih menjalankan kehidupan komunal.

Daya tarik utama Rumah Betang Ensaid Panjang bukan hanya arsitekturnya, tetapi juga aktivitas menenun yang masih dilakukan sehari-hari. Ibu-ibu di rumah betang ini memproduksi kain tenun ikat Dayak Sintang dengan teknik tradisional yang diwariskan lintas generasi. Setiap motif punya makna tertentu, seperti motif pucuk rebung (bambu muda) dan lingkar kubu yang terinspirasi dari bentuk pakis.

Tenun ikat Sintang sudah merambah pasar internasional. Pada World Water Forum ke-10 di Bali pada Mei 2024, kain tenun dari Sintang dipilih sebagai outfit para pemimpin negara. Produknya juga sudah diekspor ke Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya. Pada 2024, pemerintah menggelontorkan anggaran lebih dari Rp19 miliar dari APBN untuk rehabilitasi rumah betang ini agar tetap lestari.

Ekonomi Sintang: Pertanian sebagai Penopang Utama

Ekonomi Sintang pada 2023 tumbuh 4,68% dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp18,86 triliun. Tiga sektor utama yang menopang perekonomian adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan (23,59%), disusul perdagangan besar dan eceran (16,08%), serta konstruksi (15,59%).

PDRB per kapita Sintang tercatat sekitar Rp42,4 juta per tahun. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional, yang mencerminkan tantangan pembangunan di daerah dengan wilayah luas dan infrastruktur yang belum merata. Sektor pertanian tetap menjadi andalan, dengan komoditas unggulan berupa padi sawah, padi ladang, jagung, dan kelapa sawit. Di bidang kehutanan, rotan dan gaharu menjadi komoditas yang cukup penting.

Sejak 2016, Pemerintah Kabupaten Sintang mencanangkan program Sintang Lestari, sebuah komitmen untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Program ini diformalkan melalui Peraturan Bupati No. 66/2019 tentang Rencana Aksi Daerah Pembangunan Berkelanjutan. Langkah ini cukup penting mengingat 59% wilayah Sintang masih berupa hutan, termasuk bagian dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Akses dan Transportasi ke Sintang

Sintang bisa dijangkau melalui jalur darat dan udara. Dari Pontianak, jarak tempuh darat sekitar 395 km melalui Jalan Lintas Kalimantan (Trans-Kalimantan Highway), yang memakan waktu sekitar 7-8 jam menggunakan bus atau travel. Tarif travel dari Pontianak ke Sintang berkisar Rp150.000 hingga Rp500.000 tergantung jenis kendaraan dan operator.

Untuk jalur udara, Bandara Tebelian (airport code: SQG) menjadi pintu masuk utama sejak 2018, menggantikan Bandara Susilo yang ditutup. Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 1.650 meter dan mampu melayani pesawat jenis ATR. Penerbangan dari Pontianak ke Sintang hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Selain itu, transportasi sungai melalui Sungai Kapuas juga masih digunakan oleh sebagian warga untuk perjalanan antarkecamatan.

Destinasi Wisata Lain di Sintang

Selain Bukit Kelam, Hutan Baning, dan Rumah Betang Ensaid Panjang, Sintang punya beberapa destinasi lain yang layak dikunjungi:

  • Danau Jemelak (Danau Balek Angin): danau alami dengan pemandangan tenang, cocok untuk memancing dan menyusuri tepian dengan sampan sewaan. Lokasinya cukup dekat dari pusat kota.
  • Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya: kawasan konservasi yang membentang di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Terdapat lebih dari 800 jenis tumbuhan dan habitat bagi orangutan, beruang madu, serta berbagai jenis burung.
  • Air Terjun Nokan Lonayan: air terjun yang terletak di kawasan hutan, cocok bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam yang lebih terpencil.
  • Wisata Tepi Sungai Kapuas: area di sekitar pusat kota yang menawarkan pemandangan sungai, khususnya menarik saat senja.

Sintang juga dijuluki “Indonesia mini” karena keberagaman suku dan budayanya. Dengan 34 sub-suku Dayak yang mendiami wilayah ini, ditambah komunitas Melayu, Jawa, dan Tionghoa, kabupaten ini menawarkan kekayaan budaya yang sulit ditemukan di satu lokasi lain di Kalimantan Barat. Bagi Anda yang tertarik menjelajahi pedalaman Borneo tanpa harus terlalu jauh dari peradaban, Sintang adalah titik awal yang tepat.

Scroll to Top